Senin, 18 Maret 2019

Positif Bermedia Sosial

Halo para pembaca semuanya apa kabar?. Semoga kabarnya sehat semuaya Amin..

Disini saya sebagai penulis akan sharing mengenai apa yang saya dapat dari seminar di Universitas Iba Palembang pada tanggal 16 maret 2019 Pada pukul 13.00 sampai dengan selesai yang di ikuti dari 100 orang terbuka untuk umum seminar ini juga berkerja sama dengan kompasiana.

Apa itu media sosial? Media Sosial adalah media online (daring) yang dimanfaatkan sebagai sarana pergaulan sosial secara online di internet. Di media sosial, para penggunanya dapat saling berkomunikasi, berinteraksi, berbagi, networking, dan berbagai kegiatan lainnya.
Saat ini banyak bermunculan social media di dunia maya, baik yang buatan luar negeri maupun dalam negeri, seperti : Facebook, Twitter, Youtube, Instagram sampai Kompasiana. Semuanya memiliki ciri khas yang menjadi keunggulan masing-masing social media. Masyarakat Indonesia dikenal sebagai pengguna social media yang aktif. Sebagian besar orang Indonesia memiliki akun di social media, bahkan bisa lebih dari satu social media.





Jadi pada hari Sabtu tanggal 16 maret 2019 saya dan teman teman saya menghadiri seminar yang di adakan oleh Universitas Iba Palembang yang menghadirkan empat narasumber yakni Dedy Huang, Nindy, Dr. Posma B.Siahaan , dan Dues K. Arbain untuk acara inipun kuotanya terbatas dan alhamdulilahnya saya dan beberapa teman saya beruntung sekali terpilih untuk bisa menghadiri seminar yang berjudul Positif Bermedia Sosial.





Pada saat itu juga sebelum seminar itu dimulai  kami para audience menyanyikan lagu kebangsaan indonesia yang berjudul INDONESIA RAYA, setelah menyanyikan lagu kebangsaan di teruskan dengan pemberian penghargaan  kepada Rektor dari Universitas Iba Palembang.





untuk pemateri pertama dilakukan oleh Dedy Huang, Dedy Huang adalah seorang Blogger, Traveling, dan aktif juga di jejing sosial media menurutnya ada lima (5) prinsip cerdas berinternet 
1. Keep playing or stop
2. Saring befor Sharing
3. Wise while online
4. Think before posting dan
5. Click or close 
 Dedy Huang juga berpesan sebagai berikut, sebelum menyebarkan berita/informasi yang kita dapatkan dari sosial media usahakan cek terlebih dahulu apakah berita/informasi tersebut memang benar terjadi ataupun hanya berita hoax yang tak tau kebenarannya.
                                                                                                                                       


Menurut pendapat saya mengenai seminar ini sangat membantu saya untuk berhati-hati dalam menggunakan media sosial terutama Instagram, karna media inilah salah satunya media yang sangat cepat dalam menyebarkan berita/informasi mungkin juga dikarenakan pengguna instagram yang sangat banyak sampai saat ini. tak sampai disini saja setelah acara seminar ini selesai dilanjutkan dengan sesi tanya jawab , ada beberapa mahasiswa dari Universitas Iba Palembang yang bertanya bagaimana menjadi pengguna media yang positif?. setelah sesi tanya jawab punselesai dilakukannya foto bersama di tempat tadaaa....





Mungkin itu saja yang bisa saya sampaikan sebagai penulis, selebihnya saya sebagai penulis berharap apa yang saya tulis bisa membantu atau memuaskan kalian para pembaca Terimakasih :)

 

Sabtu, 12 Mei 2018

Ayahku Pahlawanku


    Perkenalkan. Namaku Sulis, aku berumur 13 tahun. Aku tinggal di sebuah kampung kumuh pojok kota, Kampung Pale , ya itulah nama kampungku Aku hanya tinggal bersama ayahku yang bernama Evan Sunardi dan seorang adik laki-lakiku yang bernama Badrun dan masih berumur 7 tahun.    

   Kedua orang tuaku sudah bercerai sekitar 5 tahun , maka dari itu aku hanya tinggal dengan satu orangtua saja. Setiap hari Suasana keluargaku ramai dengan ocehan, cacian, dan bentakan ibu terhadap ayah sebelum kedua orang tuaku  bercerai. Ibuku tidak betah dengan keadaan keluarga kami karena kami hidup serba kekurangan. Untuk makan sehari-hari saja kami kesulitan, kadang untuk beberapa hari kami hanya makan nasi dengan garam, kecap dan sambal. Begitulah sehari-harinya kehidupan keluargaku yang sederhana maka dari itu Ibu meninggalkan kami semua untuk selamanya.
Ayahku hanya bekerja sebagai buruh kasar toko kelontong sederhana milik Pak Budi. Dan itupun ayahku tidak setiap hari bekerja di toko Pak Budi , jika toko sedang sepi Pak Budi tidak akan belanja banyak untuk tokonya. Paling-paling hanya belanja kebutuhan rumah tangga yang Pak Budi bisa membawanya sendiri dari pasar ke toko tanpa jasa ayah. Jadi ayah jarang mendapatkan penghasilan rutin tiap hari untuk menghidupkan kami. Walaupun seperti itu keadaannya ayah tetap sabar dan tabah dengan apa yang terjadi. Ayah juga seorang laki-laki pekerja keras. Ibu tidak betah dengan keadaan keluarga seperti ini dan akhirnya ibu meminta untuk bercerai dengan ayah.

8  Tahun yang lalu . . .

    Saat ayah dan ibu telah resmi bercerai, Aku dan Badrun ikut dengan ayah karena aku yakin ayah lebih memilih membawaku dan adikku, dan akupun yakin dengan ibu pasti ia enggan untuk membawaku dan Badrun pergi bersamanya. Padahal saat itu Badrun tidak rela ibu pergi meninggalkan keluarga kecil kita. Walaupun Badrun menangis kencang dan menarik baju Ibu, tetapi ibu tidak menolehnya sama sekali dan langsung pergi meninggalkan tempat itu seketika.
Perceraian ayah dan ibu membuat Aku dan Badrun merasa kehilangan sosok orang yang telah melahirkanku dan telah kehilangan kasih sayang seorang ibu. Kini memang kami harus memulai hidup baru tanpa ibu.Memang berat tetapi Ayah menyuruhku dan Badrun untuk mengikhlaskan kepergian ibu. Aku bisa saja mengikhlaskan ibu tetapi tidak dengan Badrun. Badrun masih tidak dapat mengikhlaskan kepergian Ibu. Badrun melampiaskan perasaannya dengan marah dan membentak ayah pada saat itu. 
“Badrun kecewa sama ayah.  Kenapa ayah biarin ibu pergi meninggalkan kita semua? Badrun masih butuh perhatian dan kasih sayang seorang Ibu. Tetapi ayah tega membiarkan Ibu meninggalkan Badrun .”  Kata Badrun marah sambil menangis dan kesal.
“Bukan begitu Nak, bukan maksud ayah untuk memisahkan Badrun dengan Ibu. Tetapi ini memang sudah lanjutan jalan hidup kita selanjutnya yaitu hidup tanpa Ibu. Ayah juga merasakan hal yang sama dengan kamu, Badrun. Merasa kehilangan Ibu, tetapi coba kamu ingat-ingat perlakuan Ibu selama ini terhadap kamu dan kakakmu. Ibumu tidak pernah bersikap baik dan menunjukkan kasih sayang seorang Ibu terhadap anaknya . Ibu selalu memarahi kalian padahal hanya masalah kecil dan bahkan itu tidak untuk kejelekan yang tidak seharusnya Ibu memarahi kalian akibat masalah itu , membentak kalian, dan juga sering menyuruh kalian yang masih kecil untuk mengerjakan pekerjaan rumah yang seharusnya itu adalah sebuah tugas seorang Ibu.” Jawab Ayah panjang lebar bernada lembut.
“Ayah benar Badrun, memang seharusnya kamu mengikhlaskan kepergian Ibumu. Karena memang kita harus memulai kehidupan baru tanpa Ibu. Dulu waktu kita masih bersama Ibu, Ibu tidak pernah memberi kita perhatian dan kasih saying sama sekali, kita hanya mendapat omelan, omongan kasar, perintah-perintah melakukan pekerjaan Ibu yang berat sementara Ibu hanya enak-enakan tidur-tiduran saja. Kita tidak sepantasnya mendapatkan perlakuan seperti itu dari seorang ibu.” Sambung Sulis
“Ayah dan Kak Sulis tidak tahu bagaimana perasaan  Badrun sekarang saat Ibu sudah tidak ada disamping Badrun lagi. Badrun merasa sangat kehilangan Ibu, Kak. Badrun masih ingin Ibu menemani Badrun sampai Badrun besar nanti.” Kata Hasan sambil terisak.
“Kakak juga merasakan hal yang sama denganmu, Badrun. Tetapi kita harus belajar memahami keadaan kita. Toh masih ada ayah yang lebih sayang sama kita,Dun.” Jawab Sulis dengan nada lembut.
 “Ayah menyayangi dan mencintai kalian semua melebihi sayang dan cinta ayah sama diri ayah sendiri, ayah akan berusaha sekuat ayah demi kebaikan kalian kelak Anak-anakku. Ayah berjanji akan merawat dan menjaga kalian. Ayah berperan menjadi seorang ayah juga seorang ibu.”
“Badrun capek  Yah, mau istirahat dulu.” Jawab Badrun lantang kemudian pergi meninggalkan ayah dan kakaknya.
“Sudah Ayah, Ayah jangan terlalu bersedih memikirkan sikap Badrun. Besok pasti dia suda bisa menerima ini semua Yah, Badrun hanya perlu adaptasi tanpa ibu saja, Yah.” Sambung Sulis seraya menenangkan hati ayahnya.
          Hari demi hari berlalu Badrun mulai sadar. Badrun sudah mengikhlaskan kepergian Ibu dengan lapang dada. Badrun sadar bahwa masih ada ayah yang dari dulu memberikan kasih sayang dan perhatian kepadanya dan kepadaku. Badrun sudah mulai menerima bahwa kini ia hanya tinggal dengan satu orangtua dan Badrun tidak mau kehilangan Ayah karena Ayah adalah satu-satunya orangtua Badrun yang benar-benar menyayanginya dan juga menyayangiku

4 Tahun Kemudian . . .
          Ayam jantan berkokok, sang surya telah kembali muncul menerangi alam. Aktivitas Kampung Pale dimulai lagi. Jalanan memasuki kampung sangat sempit tetapi banyak pedagang yang memakai gerobak masuk melewati jalan sempit dan menambah ramai dan menambah sempit keadaan jalan.
        Meskipun diluar rumah ramai, tetapi didalam rumah kami bertiga sibuk untuk membersihkan rumah. Aku menanak nasi sekaligus menggoreng lauk kita hari ini yaitu, hanya ikan asin. Tetapi meskipun hanya lauk ikan asin kita bertiga besyukur bisa makan menggunakan lauk. Setelah selesai menanak nasi dan menggoreng ikan asin. Aku melanjutkan pekerjaan rumah dengan menyapu seluruh bagian rumah. Meskipun rumah kita kecil tetapi selalu saja setiap hari banyak sekali kotoran.
 Badrun menata barang-barang yang terlihat berantakan. Sedangkan ayah merontokkan debu-debu diatas langit-langit rumah dan kemudian aku menyapunya. Hari ini kami bekerja bakti membersihkan rumah. Setelah selesai bersih-bersih kamipun mulai merasa lapar, aku mengajak ayah dan Badrun untuk makan karena nasi dan lauk sudah siap.
“Ayah, Badrun ayo kita makan, bersih-bersihnya kan sudah selesai semuanya juga pasti sudah merasa lapar. Nasi dan lauknya juga sudah siap.” Kataku kepada ayah dan juga Badrun
“Sudah siap semua, Kak?” Tanya Badrun.
“Sudah, Badrun semua sudah siap tinggal kita menyantapnya hangat-hangat” jawab Sulis.
“Alhamdulillah. Ayo Badrun, Sulis kita makan.” Sambung Ayah.
         
Setelah selesai makan, aku membersihkan sisa makanan. Ayah pun meminta izin untuk pergi ke toko milik PakBudi. Mungkin saja disana ada yang membutuhkan jasa ayah. Ketika ayah sampai di toko Pak Budi, ternyata tidak ada barang yang perlu ayah angkuti, ayah pun dengan sabar dan ikhlas meninggalkan toko Pak Budi, karena disana tidak terdapat sumber kehidupannya.Ayah pun berjalan-jalan di sekeliling pasar. Ayah berharap didalam pasar ada yang membutuhkan jasa ayah untuk angkut-angkut. Setelah ayah berkeliling memutari pasar ayah tidak mendapatkan pekerjaan apapun. Ketika sampai pojok pasar di toko material Koh Zangzang ayah melihat, pegawai Koh Zangzang hanya dua orang tetapi bahan material yang harus diangkut turun dari truk sangat banyak, ayah langsung menghampiri Koh Zangzang dan menyerahkan diri ayah untuk bekerja sebagai buruh kasar di toko material Koh Zangzang.

          “Permisi Koh, selamat pagi.” Sapa ayah.
“Oh Pak Evan, selamat pagi. Bagaimana kabarnya lama kita tidak pernah berjumpa?” Jawab Koh Zangzang dilanjutkan dengan Tanya.
“Baik-baik saja Koh, bagaimana dengan Kokoh?” Jawab Ayah.
“Baik juga Pak, bapak kemari mau membeli apa semen, pasir, batu?” Tanya Pak Zangzang.
“Oh tidak Koh, saya kemari ingin bekerja ditempat Kokoh. Apakah ditempat Kokoh ini kekurangan buruh angkut, saya rela Koh.” Sambung ayah.
“Hmm begitu rupanya Pak. Kebetulan sekali ditoko saya ini kekurangan buruh angkut. Boleh bapak bekerja disini.” Jawab Koh Zangzang dengan tersenyum.
“Benar begitu Koh? Saya mengucapkan banyak terimakasih.” Jawab ayah dengan bersyukur.
        
      Akhirnya ayah bekerja di toko Koh Zangzang. Setiap hari ayah bekerja disana, karena ayah menjadi buruh angkut tetap dan juga kiriman bahan bangunan di toko Koh Zangzang datang setiap hari. Dan setiap hari pula kami bisa makan dengan lauk yang enak. Seperti ikan, ayam, daging atas jasa ayah.
Aku dan Badrun berterima kasih kepada ayah karena ayah terus bekerja keras dan terus berusaha untuk menghidupiku dan Badrun.
Aku sangat mengidolakan ayahku karena ayahku seorang ayah yg pekerja keras, sabar tetap berusaha untuk menghidupiku dan seorang adik laki-lakiku.

Tamat ..

Resensi Novel



Judul Novel      : Hana's Suitcase







 Pengarang          : Karen levine 

Penerbit              : Kanius Media

Tahun Terbit        : 2002

Tebal halaman     : 143






             Sinopsi Hana's Suitcase

Hana… gadis kecil berusia 13th, yang mewakili kisah penderitaan anak-anak akibat kediktatoran NAZI. Selama 3 tahun ia harus menjalani hari-harinya di sebuah kamp konsentrasi orang-orang Yahudi.
Cerita ini berkisah tentang pengalaman seorang gadis kecil dan keluarganya di Cekoslovakia antara tahun1930 dan 1940an juga tentang seorang perempuan muda dan sekelompok anak di tokyo, jepang, dan seorang anak laki - laki tua di Toronto pada masa itu.
Hana’s Suitcase merupakan salah satu novel yang menceritakan tentang Holocaust, buat yang belum tahu mengenai Holocaust, Holocaust terjadi dalam periode perang dunia kedua. Holocaust merupakan salah satu pembantaian atau pemusnahan suatu bangsa atau ras yang sering kita kenal dengan sebutan Genosida. dalam hal ini Holocaust merupakan pembantaian terhadap bangsa Yahudi di sekitaran Eropa oleh Nazi yang dipimpin oleh Adolf Hitler. Selain bangsa Yahudi di eropa, pembantaian juga terjadi kepada bangsa Romawi dan tawanan perang pada masa itu.

            

           Kelebihan Buku Hana's Suitcase 



Buku ini menjadi sangat menarik bagiku, bukan hanya karena aku menyukai sejarah dan tertarik mendalami hal-hal mengenai Holocaust dan perang dunia kedua. Buku ini menceritakan tentang sebuah keluarga yang kebahagiaannya direnggut satu-persatu. Ketika Hana kehilangan ibunya, kemudian ayahnya, Neneknya, dan terakhir ketika Hana dipisahkan oleh kakak satu-satunya
 

          Kekurangan Buku Hana's Suitcase 



Menurut saya pribadi di dalam cerita novel ini alur ceritanya kadang kadang berputar seperti
Fumiko mengungkap jati diri Hana dan kisah Hana itu sendiri, maka dari itu bisa saja pembaca mudah bosan dengan isi cerita dari novel itu sendiri...