Perkenalkan. Namaku Sulis, aku berumur 13
tahun. Aku tinggal di sebuah kampung kumuh pojok kota, Kampung Pale , ya itulah
nama kampungku Aku hanya tinggal bersama ayahku yang bernama Evan Sunardi dan
seorang adik laki-lakiku yang bernama Badrun dan masih berumur 7 tahun.
Kedua orang tuaku sudah bercerai sekitar 5
tahun , maka dari itu aku hanya tinggal dengan satu orangtua saja. Setiap
hari Suasana keluargaku ramai dengan ocehan, cacian, dan bentakan ibu terhadap
ayah sebelum kedua orang tuaku bercerai.
Ibuku tidak betah dengan keadaan keluarga kami karena kami hidup serba
kekurangan. Untuk makan sehari-hari saja kami kesulitan, kadang untuk beberapa
hari kami hanya makan nasi dengan garam, kecap dan sambal. Begitulah
sehari-harinya kehidupan keluargaku yang sederhana maka dari itu Ibu
meninggalkan kami semua untuk selamanya.
Ayahku hanya bekerja sebagai buruh kasar toko kelontong sederhana milik
Pak Budi. Dan itupun ayahku tidak setiap hari bekerja di toko Pak Budi , jika
toko sedang sepi Pak Budi tidak akan belanja banyak untuk tokonya.
Paling-paling hanya belanja kebutuhan rumah tangga yang Pak Budi bisa
membawanya sendiri dari pasar ke toko tanpa jasa ayah. Jadi ayah jarang
mendapatkan penghasilan rutin tiap hari untuk menghidupkan kami. Walaupun seperti itu keadaannya ayah tetap
sabar dan tabah dengan apa yang terjadi. Ayah juga seorang laki-laki pekerja
keras. Ibu tidak betah dengan keadaan keluarga seperti ini dan akhirnya ibu
meminta untuk bercerai dengan ayah.
8 Tahun yang lalu . . .
Saat ayah dan ibu telah resmi bercerai, Aku dan Badrun ikut dengan ayah karena aku yakin ayah lebih memilih membawaku dan adikku, dan akupun yakin dengan ibu pasti ia enggan untuk membawaku dan Badrun pergi bersamanya. Padahal saat itu Badrun tidak rela ibu pergi meninggalkan keluarga kecil kita. Walaupun Badrun menangis kencang dan menarik baju Ibu, tetapi ibu tidak menolehnya sama sekali dan langsung pergi meninggalkan tempat itu seketika.
Perceraian ayah dan ibu membuat Aku dan Badrun merasa kehilangan sosok
orang yang telah melahirkanku dan telah kehilangan kasih sayang seorang ibu.
Kini memang kami harus memulai hidup baru tanpa ibu.Memang berat tetapi Ayah menyuruhku dan Badrun untuk mengikhlaskan
kepergian ibu. Aku bisa saja mengikhlaskan ibu tetapi tidak dengan Badrun. Badrun
masih tidak dapat mengikhlaskan kepergian Ibu. Badrun melampiaskan perasaannya
dengan marah dan membentak ayah pada saat itu.
“Badrun kecewa sama ayah. Kenapa ayah biarin ibu pergi meninggalkan kita semua? Badrun masih butuh perhatian dan kasih sayang seorang Ibu. Tetapi ayah tega membiarkan Ibu meninggalkan Badrun .” Kata Badrun marah sambil menangis dan kesal.
“Badrun kecewa sama ayah. Kenapa ayah biarin ibu pergi meninggalkan kita semua? Badrun masih butuh perhatian dan kasih sayang seorang Ibu. Tetapi ayah tega membiarkan Ibu meninggalkan Badrun .” Kata Badrun marah sambil menangis dan kesal.
“Bukan begitu Nak, bukan maksud ayah untuk memisahkan Badrun dengan Ibu.
Tetapi ini memang sudah lanjutan jalan hidup kita selanjutnya yaitu hidup tanpa
Ibu. Ayah juga merasakan hal yang sama dengan kamu, Badrun. Merasa kehilangan
Ibu, tetapi coba kamu ingat-ingat perlakuan Ibu selama ini terhadap kamu dan
kakakmu. Ibumu tidak pernah bersikap baik dan menunjukkan kasih sayang seorang
Ibu terhadap anaknya . Ibu selalu memarahi kalian padahal hanya masalah kecil
dan bahkan itu tidak untuk kejelekan yang tidak seharusnya Ibu memarahi kalian
akibat masalah itu , membentak kalian, dan juga sering menyuruh kalian yang
masih kecil untuk mengerjakan pekerjaan rumah yang seharusnya itu adalah sebuah
tugas seorang Ibu.” Jawab Ayah panjang lebar bernada lembut.
“Ayah benar Badrun, memang seharusnya kamu mengikhlaskan kepergian Ibumu.
Karena memang kita harus memulai kehidupan baru tanpa Ibu. Dulu waktu kita
masih bersama Ibu, Ibu tidak pernah memberi kita perhatian dan kasih saying sama
sekali, kita hanya mendapat omelan, omongan kasar, perintah-perintah melakukan
pekerjaan Ibu yang berat sementara Ibu hanya enak-enakan tidur-tiduran saja.
Kita tidak sepantasnya mendapatkan perlakuan seperti itu dari seorang ibu.”
Sambung Sulis
“Ayah dan Kak Sulis tidak tahu bagaimana perasaan Badrun sekarang saat Ibu sudah tidak ada
disamping Badrun lagi. Badrun merasa sangat kehilangan Ibu, Kak. Badrun masih
ingin Ibu menemani Badrun sampai Badrun besar nanti.” Kata Hasan sambil
terisak.
“Kakak juga merasakan hal yang sama denganmu, Badrun. Tetapi kita harus
belajar memahami keadaan kita. Toh masih ada ayah yang lebih sayang sama kita,Dun.”
Jawab Sulis dengan nada lembut.
“Ayah menyayangi dan mencintai
kalian semua melebihi sayang dan cinta ayah sama diri ayah sendiri, ayah akan
berusaha sekuat ayah demi kebaikan kalian kelak Anak-anakku. Ayah berjanji akan
merawat dan menjaga kalian. Ayah berperan menjadi seorang ayah juga seorang
ibu.”
“Badrun capek Yah, mau istirahat
dulu.” Jawab Badrun lantang kemudian pergi meninggalkan ayah dan kakaknya.
“Sudah Ayah, Ayah jangan terlalu bersedih memikirkan sikap Badrun. Besok
pasti dia suda bisa menerima ini semua Yah, Badrun hanya perlu adaptasi tanpa
ibu saja, Yah.” Sambung Sulis seraya menenangkan hati ayahnya.
Hari demi hari berlalu Badrun
mulai sadar. Badrun sudah mengikhlaskan kepergian Ibu dengan lapang dada. Badrun
sadar bahwa masih ada ayah yang dari dulu memberikan kasih sayang dan perhatian
kepadanya dan kepadaku. Badrun sudah mulai menerima bahwa kini ia hanya tinggal
dengan satu orangtua dan Badrun tidak mau kehilangan Ayah karena Ayah adalah
satu-satunya orangtua Badrun yang benar-benar menyayanginya dan juga
menyayangiku
4 Tahun Kemudian . . .
Ayam jantan berkokok,
sang surya telah kembali muncul menerangi alam. Aktivitas Kampung Pale dimulai
lagi. Jalanan memasuki kampung sangat sempit tetapi banyak pedagang yang
memakai gerobak masuk melewati jalan sempit dan menambah ramai dan menambah
sempit keadaan jalan.
Meskipun diluar rumah
ramai, tetapi didalam rumah kami bertiga sibuk untuk membersihkan rumah. Aku
menanak nasi sekaligus menggoreng lauk kita hari ini yaitu, hanya ikan asin.
Tetapi meskipun hanya lauk ikan asin kita bertiga besyukur bisa makan
menggunakan lauk. Setelah selesai menanak nasi dan menggoreng ikan asin. Aku
melanjutkan pekerjaan rumah dengan menyapu seluruh bagian rumah. Meskipun rumah
kita kecil tetapi selalu saja setiap hari banyak sekali kotoran.
Badrun menata barang-barang yang
terlihat berantakan. Sedangkan ayah merontokkan debu-debu diatas langit-langit
rumah dan kemudian aku menyapunya. Hari ini kami bekerja bakti membersihkan
rumah. Setelah selesai bersih-bersih kamipun mulai merasa lapar, aku mengajak
ayah dan Badrun untuk makan karena nasi dan lauk sudah siap.
“Ayah, Badrun ayo kita makan, bersih-bersihnya kan sudah selesai
semuanya juga pasti sudah merasa lapar. Nasi dan lauknya juga sudah siap.”
Kataku kepada ayah dan juga Badrun
“Sudah siap semua, Kak?” Tanya Badrun.
“Sudah, Badrun semua sudah siap tinggal kita menyantapnya hangat-hangat”
jawab Sulis.
“Alhamdulillah. Ayo Badrun, Sulis kita makan.” Sambung Ayah.
Setelah selesai makan, aku membersihkan sisa makanan. Ayah pun meminta izin untuk pergi ke toko milik PakBudi. Mungkin saja disana ada yang membutuhkan jasa ayah. Ketika ayah sampai di toko Pak Budi, ternyata tidak ada barang yang perlu ayah angkuti, ayah pun dengan sabar dan ikhlas meninggalkan toko Pak Budi, karena disana tidak terdapat sumber kehidupannya.Ayah pun berjalan-jalan di sekeliling pasar. Ayah berharap didalam pasar ada yang membutuhkan jasa ayah untuk angkut-angkut. Setelah ayah berkeliling memutari pasar ayah tidak mendapatkan pekerjaan apapun. Ketika sampai pojok pasar di toko material Koh Zangzang ayah melihat, pegawai Koh Zangzang hanya dua orang tetapi bahan material yang harus diangkut turun dari truk sangat banyak, ayah langsung menghampiri Koh Zangzang dan menyerahkan diri ayah untuk bekerja sebagai buruh kasar di toko material Koh Zangzang.
“Permisi Koh, selamat
pagi.” Sapa ayah.
“Oh Pak Evan, selamat pagi. Bagaimana kabarnya lama kita tidak pernah
berjumpa?” Jawab Koh Zangzang dilanjutkan dengan Tanya.
“Baik-baik saja Koh, bagaimana dengan Kokoh?” Jawab Ayah.
“Baik juga Pak, bapak kemari mau membeli apa semen, pasir, batu?” Tanya
Pak Zangzang.
“Oh tidak Koh, saya kemari ingin bekerja ditempat Kokoh. Apakah ditempat
Kokoh ini kekurangan buruh angkut, saya rela Koh.” Sambung ayah.
“Hmm begitu rupanya Pak. Kebetulan sekali ditoko saya ini kekurangan
buruh angkut. Boleh bapak bekerja disini.” Jawab Koh Zangzang dengan tersenyum.
“Benar begitu Koh? Saya mengucapkan banyak terimakasih.” Jawab ayah
dengan bersyukur.
Akhirnya ayah bekerja di toko Koh Zangzang. Setiap hari ayah bekerja disana, karena ayah menjadi buruh angkut tetap dan juga kiriman bahan bangunan di toko Koh Zangzang datang setiap hari. Dan setiap hari pula kami bisa makan dengan lauk yang enak. Seperti ikan, ayam, daging atas jasa ayah.
Aku dan Badrun berterima kasih kepada ayah karena ayah terus bekerja
keras dan terus berusaha untuk menghidupiku dan Badrun.
Aku sangat mengidolakan ayahku karena ayahku seorang ayah yg pekerja
keras, sabar tetap berusaha untuk menghidupiku dan seorang adik laki-lakiku.
Tamat ..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar